Seperti ‘iklim’ dan ‘bunga’, budaya atau kultur memberi suasana dengan warna-warni alias aneka ragamnya, sehingga masyarakat beraneka suku bangsa, adat istiadat, bahasa, dan agama seperti Indonesia sesungguhnya juga menunjukkan kekayaan budaya masyarakatnya. Kekayaan dan keragaman budaya bangsa Indonesia bukanlah retorika. Ia adalah kenyataan sejarah dan telah jadi denyut nadi kehidupan masyarakatnya.
“Bhinneka Tunggal Ika”, tiga kata yang tertera pada pita yang digenggam erat oleh kaki Burung Garuda (Lambang Negara kita) adalah semboyan resmi negara-bangsa Indonesia. Diakui sebagai berasal dari Bahasa Jawa Kuno, frase ini secara harfiah bermakna “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.” Semboyan yang cikal-bakalnya dinukil dari kitab Kakawin Soetasoma karya pujangga Mpu Tantular ini menggambarkan sedari awal sejarah keragamaan sebagai keniscayaan dan kekayaan bangsa besar ini.
Buku di tangan pembaca ini memuat kumpulan pandangan dari para ahli, peneliti, dan dosen dari dalam dan luar negeri mengenai “bunga” peradaban dari berbagai perspektif. Dengan berlatar keahlian berbeda dan perhatian beragam mengenai fenomena budaya dan komunikasi, para penulisnya melihat berbagai persoalan masyarakat kontemporer dari lensa budaya. Yang tak kalah penting, buku ini juga mendorong agar kepekaan budaya perlu dibangun di kalangan akademisi dan peneliti di dalam masyarakat multikultur ini.











